Jumat, 16 Januari 2009

Salah Kaprah dan Tip Menang Untuk Caleg

Oleh Rosadi Jamani

Pertarungan antar caleg semakin seru seiring semakin dekatnya Pemilu legislatif 9 April. Berbagai cara dilakukan caleg untuk mendapatkan doa restu dan dukungan dari pemilih. Perang baliho dan bendera partai sudah tidak bisa dihindarkan lagi. Kadang asyik untuk dinikmati ketika melihat foto caleg yang rata-rata senyum pepsodent. Tapi, kadang muak ketika keindahan kota dikotori dengan wajah-wajah calon wakil rakyat itu.
Empat hari lalu, kawan saya seorang anggota Dewan salah satu kabupaten menelepon. Dia mengatakan ada kawannya seorang caleg memasang baliho ukuran besar di perempatan jalan serta pamflet di dinding-dinding pasar. “Aku heran, caleg itukan calon anggota legislatif. Tapi, di dalam baliho dan pamflet caleg itu ada visi dan misi serta program kerja. Saya berpikir, caleg itu apakah mau kampanye untuk wakil rakyat atau bupati?” cerita kawan saya itu lewat telepon.
“Yang lucunya, kalau caleg itu baru tampil, saya maklumi. Tapi, caleg yang itu adalah anggota Dewan dua periode. Mestinya dia tahu tugas-tugas seorang wakil rakyat,” ujar kawan saya itu.
“Lucunya lagi, ada program kerjanya, akan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat miskin, membangun jalan dan jembatan, membela kepentingan petani. Pokoknya, banyak lagi program kerjanya. Mirip-mirip visi dan misi seorang calon bupati,” paparnya.
Mendengar cerita itu saya mengangguk-anggukan kepala bahwa apa yang dikatakan kawan itu memang benar. Saya ingat bahwa tugas pokok wakil rakyat hanya tiga, yaitu controlling, budgeting and legislation (pengawasan, menyusun anggaran dan membuat Perda). Bisa sedikit saya uraikan, controlling atau mengawasi kinerja pihak eksekutif. Apabila ada kepala daerah atau kepala dinas menyimpang dari ketentuan undang-undang, tugas wakil rakyat untuk meluruskan. Jangan heran ada wakil rakyat mencak-mencak apabila ada proyek tidak beres. Jangan heran apabila ada wakil rakyat kerjaannya senang mengkritik bupati. Itu adalah bagian tugas dari controlling.
Kemudian, budgeting menyusun anggaran bersama eksekutif. Biasanya dari November sampai Desember, legislatif dan eksekutif menyusun RAPBD. Dalam penyusunan anggaran ini biasa terjadi tarik menarik kepentingan. Maklum, yang dibahas itu uang ratusan miliar. Biasanya pembahasan anggaran ini berminggu-minggu. Bahkan, malam hari juga sering mereka lakukan.
Lalu, legislation menyusun atau membuat peraturan daerah (Perda). Ada Perda tentang retribusi hotel dan restoran, Perda tentang galian golongan C, Perda tentang parkir, dan sebagainya. Perda yang dihasilkan itu bisa datang berdasarkan usulan dari eksekutif dan wakil rakyat. Tapi, pembahasannya secara bersama.
Kalau diperhatikan tiga tugas pokok tersebut, apakah ada celah seorang wakil rakyat untuk menciptakan lapangan pekerjaan untuk para pengangguran. Mungkin bisa, tapi pakai duit pribadi, misalnya membuat kafe atau restoran yang bisa menyerap tenaga kerja. Tapi, tidak bisa menggunakan anggaran pemerintah. Apakah ada celah wakil rakyat membangun jalan dan jembatan bernilai miliaran rupiah. Bisa sih, tapi menggunakan dana pribadi, tapi mampukah seorang wakil rakyat membangun jalan dan jembatan. Saya yakin tidak mampu, pastilah hanya pemerintah lewat dana APBD. Harus diingat di sini, wakil rakyat bukan seorang pegawai yang mengurusi masalah teknis pembangunan. Wakil rakyat hanya sebagai pengawas.
Kenapa saya mengupas masalah tugas wakil rakyat itu. Saya tidak ingin ada caleg mengumbar janji muluk di masyarakat. Kita khawatir masyarakat yang rata-rata berpendidikan rendah dengan mudah percaya terhadap omongan seorang caleg. Maklum, saat ini sekarang para caleg sedang berperang memperebutkan simpati masyarakat. Saya yakin pasti banyak caleg obral janji. Kita tidak mau ada caleg salah kiprah terhadap apa yang akan diperjuangkannya. Intinya, jangan berjanji memperjuangkan segala program pembangunan. Kalau berjanji untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat, masih bisa dibenarkan. Tapi, kalau sudah ngomong akan menciptakan, membangun, mewujudkan berbagai macam program pembangunan, itu salah kaprah. Mudah-mudahan tulisan ini bisa meluruskan caleg salah kaprah itu.
Siapapun orangnya pasti ingin menang. Menang itu sebuah prestasi dari sebuah perjuangan. Begitu juga caleg, pasti ingin menang. Mereka pasti memimpikan bisa duduk di kursi empuk legislatif dengan gaji jutaan rupiah serta berbagai fasilitas mewah. Setiap caleg pasti memiliki cara, strategi dan taktik untuk memenangkan sebuah pertarungan.
Sejauh ini, yang umum dilakukan caleg untuk memenangkan sebuah kompetisi politik, dengan memasang berbagai atribut partai dan foto dirinya. Pasang baliho, buat kalender, sebarkan pamflet, buat kartu nama dibagikan ke warga, pasang spanduk, pasang iklan di koran, cetak baju kaus, dan sebagainya. Itu semua adalah cara untuk merebut sebuah kemenangan.
Pada edisi kali ini, saya mencoba memberikan sedikit tip cara-cara untuk meraih sebuah kemenangan. Tip yang saya dapatkan ini berdasarkan berbagai referensi, cerita orang menang, dan pengalaman. Tip yang akan saya tawarkan ini, boleh diamalkan atau dipraktikkan. Tapi, boleh juga diabaikan. Terserah (up to you).
Bagi caleg yang memiliki syahwat tinggi (ngebet) jadi wakil rakyat, pertama, bentuk tim sukses. Tim sukses ini adalah kunci utama untuk meraih kemenangan. Caleg yang tidak memiliki tim sukses sulit meraih kemenangan. Jangan cari orang sembarangan dalam tim sukses itu. Anggota tim sukses terdiri orang-orang berpengalaman, memiliki jaringan terhadap simpul-simpul massa, serta memiliki jaringan di seluruh kabupaten atau kecamatan serta desa. Bila perlu sampai ke tingkat terkecil yakni RT. Anggota tim sukses harus militan, bekerja tanpa lelah dan siap mobile (bergerak) ke mana saja.
Ada tim sukses pusat yang biasa berkoordinasi langsung dengan caleg. Harus juga dibentuk tim sukses cabang berdasarkan tingkatan daerah (kabupaten, kecamatan, desa, dusun). Tim sukses cabang ini mengikuti apa yang diinstruksikan tim sukses pusat.
Tugas utama tim sukses merayu masyarakat agar memilih caleg yang diusungnya. Tim sukses ini yang menyebarkan segala macam attribute caleg, menggambarkan image positif caleg. Setiap program kerja mempopulerkan caleg yang diusung disusun secara terencana dan matang. Tidak boleh sporadis atau spontanitas. Setiap turun lapangan itu merupakan bagian dari rencana. Setiap program yang telah dijalankan, mesti dievaluasi agar tahu seperti apa dampaknya bagi masyarakat.
Cuma, cara ini berat di ongkos. Tapi, caleg yang sudah ngebet untuk menjadi wakil rakyat pasti tidak sayang dengan uang. Seluruh tim sukses yang membantunya itu mesti mendapatkan imbalan. Tidak mungkin mereka dibayar dengan air liur atau modal dengkul. Siap jadi caleg, berarti siap uang.
Langkah kedua, tidak boleh meninggalkan medan atau daerah pemilihan. Dari Januari sampai menjelang April, seorang caleg mesti standby di Dapilnya. Untuk sementara stop acara jalan-jalan ke luar kota. Dengan tidak meninggalkan medan, berarti si caleg bisa memanfaatkan waktu untuk merayu masyarakat di Dapil-nya. Bila perlu setiap malam nginap di rumah penduduk di desa-desa. Dengan demikian, si caleg bisa meyakinkan masyarakat untuk memilih dirinya. Inilah cara pendekatan masyarakat paling efektif. Dari pada pasang baliho dengan biaya mahal, kemudian menunggu mudah-mudahan ada orang tertarik melihat foto di baliho untuk memilih. Seperti pasang bubu ikan di sungai. Kalau ada ikan masuk, syukur. Kalau tidak ada ikan masuk, tinggal pasrah saja. Jadi, untung-untungan. Tapi, kalau nginap di rumah warga, hampir dipastikan si warga beserta tetangganya bisa memilih si caleg yang nginap itu.
Kembali ke soal medan, kalau caleg meninggalkan Dapil, misal dua hari saja ke luar kota, betapa ruginya caleg itu. Selama dua hari ini, ratusan caleg lain melakukan rayuan kepada masyarakat di Dapil-nya sendiri.
Langkah keempat, galang kekuatan lewat keluarga besar. Keluarga besar adalah potensi pemilih yang dijamin suaranya tidak bergeser ke caleg lain. Kumpulkan keluarga lewat acara keluarga dan dalam acara itu mesti berterus terang minta dukungan. Inilah saatnya, misalnya bagi keluarga keturunan H Idris (ini hanya contoh) untuk menjadi wakil rakyat. Bilang kepada seluruh anggota keluarga, “Selama ini kita selalu memilih orang lain yang bukan dari keluarga kita. Inilah saatnya ada anggota dari keluarga kita sendiri ingin menjadi wakil rakyat. Terus terang, saya mohon dukungan dari abang, adik, kakak, ayah, ibu, paman, sepupu, dan yang lainnya”. Jangan ada satupun anggota keluarga, baik itu keluarga dekat atau jauh luput. Semua didatangi dan minta dukungannya.
Langkah kelima, lakukan inventarisir warga yang akan memilih diri caleg. Pastikan dalam setiap hari ada penambahan pemilih. Tim sukses yang bergerak setiap hari itu pasti mendapatkan warga yang akan memilih caleg yang diusung. Nama-nama itu dibukukan. Dengan demikian akan terlihat grafik warga yang diperkirakan akan memilih diri caleg yang diusung. Pada akhirnya akan sampai pada titik ideal jumlah pemilih yang bisa mendudukkan caleg itu di kursi legislatif.
Itulah beberapa tip menang dari saya. Silakan untuk diikuti. Kalaupun tidak diikuti, tidak masalah. Pesan saya terakhir, tidak ada satu kemenangan yang diraih dengan mudah. Kemenangan itu pasti didapat dengan perjuangan keras yang mengorbankan pikiran, tenaga, waktu dan uang. Berjuanglah sambil tetap tawakal kepada Tuhan. Selamat mencoba! (Silahkan tanggapi lewat email: rosadi@equator-news.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar