Sabtu, 31 Januari 2009

Persaingan Antarcaleg Pasti Seru

Oleh Rosadi Jamani
Sistem suara terbanyak memunculkan persaingan seru antar caleg. Persaingan justru bukan dengan caleg beda partai, melainkan sesama partai sendiri. Persaingan itu terjadi apabila masing-masing caleg memiliki kemampuan sama. Tapi, kalau kemampuan beda jauh, persaingan itu tidak kuat. Di balik persaingan itu, orang bisa mendapatkan keuntungan besar.
Tetangga saya seorang pengurus partai di tingkat kelurahan. Jabatannya hanya sebagai anggota biasa. Dia tidak menjadi caleg, mungkin terbentur ijazah. Walaupun bukan caleg, dia termasuk tokoh pemuda di gang saya. Dalam beberapa minggu ini, dia sering didatangi caleg dari partainya. Caleg pertama datang nomor urut 4. Caleg ini membawa sejumlah atribut seperti baliho ukura sedang, poster, stiker dan bendera parpol. Caleg itu minta dia menempelkan atribut itu di gang saya. Dia diberikan imbalan Rp 200 ribu. Sebagai kader partai, tetangga saya tidak bisa menolak. Diapun menjalankan apa yang dihendaki caleg itu. Selang beberapa hari caleg nomor 1 ke rumahnya. Caleg ini juga sama membawa sejumlah atribut kampanye. Cuma lebih banyak dari caleg nomor 4 tadi. Tetangga saya itupun menyanggupi permintaan caleg nomor 1 untuk memasang seluruh atribut di gang. Imbalannya, dia mendapatkan Rp 300 ribu. Berarti dalam seminggu dia sudah mengantongi Rp 500 ribu. “Lumayan,” katanya kepada saya.
“Kalau ada lagi caleg dari partai saya minta dukungan, saya bilang siap membantu. Soal caleg yang sudah minta bantu sebelumnya, itu urusan lain. Yang penting dapat uangnya, walaupun dari kader sendiri. Yang milih itukan masyarakat, kita hanya bantu memasang atribut saja,” ujarnya santai. Saya lihat di rumahnya, poster caleg nomor 4 dan nomor 1 ada ditempel di dinding. Bahkan sejumlah baliho di depan rumahnya juga ada. Sementara kader partai lain juga demikian memperlakukan calegnya. Jadi, di gang saya itu banyak baliho caleg dari berbagai partai. Padahal, di gang saya hanya ada satu caleg.
Khusus caleg di gang saya itu, tidak terlihat semangat menghadapi Pemilu. Nomor urutnya juga tidak strategis, papan tengah. Dia lebih semangat membantu caleg satu partainya ketimbang mengurus diri sendiri. Saya yakin kenapa caleg itu tidak semangat, karena kesulitan uang. “Kalau bantu kawan pasti ada duitnya. Kalau kita ngurus diri sendiri, keluar uang itu sudah pasti,” ujarnya. Sekitar seminggu lalu, di rumahnya dijadikan pertemuan antara caleg nomor urut 1 dengan warga gang saya. Si caleg itu menjadi fasilitator dengan mengundang seluruh warga gang. Karena undangannya malam hari, saya tidak bisa hadir, maklum kerja malam.
Caleg itu berkata kepada saya, mengundang warga itukan tidak salah. Mereka mau hadir atau tidak masalah, tidak dipaksa. Yang penting dia sudah menyampaikan undangan. “Yang penting saya sudah menyampaikan undang. Soal hadir atau tidak, itu urusan warga. Saya tidak memaksa,” katanya.
Dua hari setelah acara temu warga dengan caleg itu selesai, ada lagi caleg lain dari partai berbeda mengundang warga. Saya juga dapat undangan. Isinya mengundang saya dan istri untuk pertemuan antara warga dengan caleg nomor 3. Lagi-lagi saya minta maaf tidak bisa hadir, karena acara itu digelar malam hari. Sayang! Kalau saya bisa hadir tentu bisa tahu seperti apa kepiawaian caleg itu. Saya dapat informasi, warga yang datang juga ramai seperti undangan caleg sebelumnya. Saya berpikir, jangan-jangan yang hadir warga-warga itu juga.
Saya coba tanya kepada tetangga yang hadir dalam pertemuan itu. “Saya sudah dua kali hadir pertemuan dengan caleg itu. Lumayan dapat makan walaupun hanya snack. Ada juga dapat baju. Bahkan, dapat amplop isinya Rp 20 ribu. Kalau 10 orang caleg ngadakan pertemuan seperti itu masing-masing ngasih Rp 20 ribu, lumayan juga. Dari dapat nonton TV di rumah lebih baik hadir. Selain dapat pengetahuan juga dapat duit,” ujar tetangga saya yang rumahnya persis di depan rumah.
Satu lagi saya sampaikan kisah caleg. Dia caleg untuk DPRD Kalbar nomor urut 5. Awalnya dia lesu. Ketika MK memutuskan suara terbanyak, semangatnya muncul kembali. Seminggu setelah keputusan MK itu, dia langsung memesan baliho ukuran besar 20 lembar. Puluhan juta dikeluarkan hanya untuk baliho itu. Tidak hanya habis di situ, dia juga membentuk tim sukses, mencetak stiker, kalender, poster, spanduk dan ribuan baju kaus. Semua atribut itu sudah dicetaknya. Dia memang berduit, maklum seorang kontraktor yang sering mendapatkan proyek di atas Rp 1 miliar lebih.
“Saya sudah menghabiskan duit Rp 200 juta lebih. Itu hanya untuk mencetak sebagian atribut kampanye. Sebagian sudah sebarkan ke masyarakat. Sebagiannya lagi untuk kampanye menjelang Pemilu. Saya yakin bisa duduk, karena saya memiliki keluarga besar. Kemudian, kader partai juga banyak. Inilah yang membuat saya yakin untuk duduk di legislatif tingkat provinsi,” yakin kawan yang juga salah satu fungsionaris partai besar.
Untuk menggapai ambisinya itu, dia telah menyiapkan uang paling sedikit Rp 2 miliar lebih. Uang tersebut tidak hanya untuk mempopulerkan dirinya, melainkan untuk adiknya juga. Adiknya juga caleg, tapi untuk tingkat kabupaten. Mereka berdua bahu-membahu untuk meraih kursi empuk. Cuma, caleg yang dihadapi tidak kalah semangatnya. Caleg nomor urut 1 adalah pimpinan partai dan juga anggota Dewan aktif. Soal duit jangan dilawan. Kemudian, caleg nomor 3 tidak kalah tajirnya. Bahkan, caleg nomor 3 itu sudah menggelar berbagai even di masyarakat. Miliaran rupiah sudah dihamburkan. Ketiga caleg satu partai itu benar-benar bersemangat. Ibarat gigi motor, ketiganya sudah menggunakan gigi empat. Asyik melihat persaingan ketiganya. Kalau masyarakat pandai mengambil hatinya bisa dapat uang banyak.
Itu semua adalah cerita menarik seputar persaingan antarcaleg. Sangat menarik untuk diamati. Kita kadang dibuat tertawa. Bahkan, kadang juga dibuatnya terpana. Ada yang sudah mengeluarkan dana miliaran rupiah hanya untuk menaklukkan kawan sendiri. Tapi, ada juga yang terlihat santai, tidak perlu mengeluarkan uang, justru memanfaatkan kawan sendiri untuk mendapatkan keuntungan. Persaingan itu akan semakin panas ketika menghadapi caleg dari partai lain. Apalagi kalau caleg itu sama-sama memiliki kemampuan. Ibaratnya, kalau tinju sama-sama kelas berat. Pasti pertarungan memperebutkan kursi panas seru dan mendebarkan.
Dalam situasi seperti itu, caleg yang bisa memenangkan pertarungan adalah caleg yang pintar, cerdas dan licik. Jangan ngomong kejujuran dalam situasi seperti itu. Untuk memenangkan pertarungan mesti lincah, licik dan penuh trik. Kalau ada caleg masih menjual kejujuran, ingin kampanye beretika, bersiap untuk kalah. Soalnya, ketika caleg itu ingin menciptakan suasana kampanye tertib, caleg lain justru mengambil sikap sebaliknya. Contoh kecil, aksi pemasangan atribut kampanye, rata-rata caleg maupun parpol melanggar aturan. Itu baru contoh kecil. Belum lagi ketika merebut hati pemilih di pelosok gang, kampung-kampung atau dusun-dusun, sikut-sikutan antar caleg pasti terjadi.
Agar pertarungan itu semakin menarik, perlu ada wasit yang tidak lain Panwaslu. Di tengah persaingan super panas itu, Panwaslu mesti tegas dan tidak pandang bulu. Selain itu, pihak kepolisian juga standby di seluruh sudut kota dan kampung. Saya hanya berdoa persaingan yang pasti menarik itu tidak sampai bentrok yang menimbulkan korban jiwa. (Silakan tanggapi lewat email ke rosadi@equator-news.com atau ke http://renunganpelangi.blogspot.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar